Jumat, 25 Mei 2012

Ungkapan Cinta 25 Mei 2012


25 Mei 2012 
semua orang bergenbira
menyambut kedatangan
siapa yang selanjutnya disebut istimewa
ketika itu dia tampak biasa
siapapun yang melihat
ia hanya wanita mungil bisa
tak pernah menyangka
suatu saat dewas
dia begitu istimewa
yang dulu mungil biasa 
kini wanita perkasa
bidadari surga
tahukah siapa dia?
dialah sang bunda
dialah mama
wanita yang sangat perkasa
bagi kami dia seorang mujahidah
tak pernah lelahnya
memberikanyang terbaik buat kita 
bekerja,memasak,menjahit,melayani kita
tak pernah berkeluh kesah
semua dilakukannya karena cinta
cinta yang amat melimpah
hanya untuk kita
ayah, alfan, vivi, iin,aal, ilham , zakky
hanya untuk kami cintanya
kami sudah seperti separuh jiwanya
bahkan ketika nyawa kami ditukar
maka mujahidahku rela menukarnya
dengan apapun walau itu jiwanya
subhanallah.........................
tak pernah ada cinta
sebesar cinta sang mujahidah
heyymmm....................
mujahidah?
yaw....
karena beliau adalah pahlawan hidup kita
beliaulah yang selalu ada
dan karena mujahidah yang paling dicinta
dzat yang paling memiliki cinta
Allah azzawajallah

kita yang hanya anak anak
dengan sadar takkan pernah bisa
membalas semua cinta
bahkan secuil dari cinta
takkan pernah bisa kita balas
namun rasa cinta kita
untuk sang mujahidah
juga sangat besar
meskipun kita selalu nakal 
bikin masalah
mengecewakan 
tak pernah bikin bahagia
tapi percayalah mama
kami sangat mencintai mama
hanya saja 
kami belum bisa memberikan cinta
sebesar cinta mama
hanya Allah yang bisa
membalas cinta dengan surga

Ya Allah Yang Maha Perksa jagalah mama dari segala mar bahaya, dari kejahatan dunia, dari kejahatan dunia, dari kejahatan manuasia dari siksaan hari pembalasan.
karenaEngkau yang MAha Pelindung 
YaAllah YnagMAha PEnyayang
limmpahilah RAhmadMu, kasih sayang Mu, CintaMu yang begitu besar untuk mama
bahkan yang lebih besar dari cinta mama kepada kami
Ammiiiinn...................................... ^_^

Jumat, 18 Mei 2012

6 Dari 36 sifat Pendidik Yang Menghambat Pembelajaran

Berfikir apa yang telah kita lakukan atau tindakan kita adalah yang paling tepat bagi pendidikan anak kita atau anak didik kita, pasti yang kita pilihkan adalah yang terbaik pula pagi perkembangan mereka, kemudian dengan seenaknya kita memperlakukan mereka dengan pemahaman bahwa sifat kita dalam mendidik adalah yang paling sempurna bagi mereka. Heym.....benarkah demikian?? Pernahkan dalam renungan kita berfikir adakah yang salah dengan sifat kita ketika kita menemukan berbagai masalah yang terjadi. Seperti anak suka memprotes bahkan membangkang, mereka jadi pendiam terhadap kita dll. Jangan pernah beranggapan bahwa ketika itu terjadi merekalah yang bermasalah bukan kita sebagai orang dewasa yang bersalah.

Mari kita renungkan 6 sifat berikut sebagai sifat oarng dewasa / guru / orangtua yang menhambat pengajaran atau pembelajaran. Mungkin terdapat pada diri kita. Ke 6 sifat tersebut adalah :
1. Merasa Paling Benar
“ kalian masih kecil tahu apa?? Sedang ibu kan sudah banyak pengalaman, jadi menurut sajalah apa kata ibu, pasti semua beres. “
Nah....apakah kita pernah mengatakan ini pada anak – anak? Ataukah kita pernah bertemu dengan kalimat ini?
Maka berhati hatiah dengan kalimat ini, perlu kita ketahui bahwa sebenarnya kalimat ini akan terasa biasa saja jika ditujukan untuk mereka yang berusia 18 tahu keatas atau mereka yang sudah dewasa. Tetapi ini akan terasa luar biasa jika kalimat ini kta tujukan untuk anak – anak atau bahkan anak usia dini. Karena kalimat ini atau semacam ini akan menghambat komunikasi anak atau kemampuan verbal anak. Ketika kalimat ini diucapkan maka serasa sudah tidak ada pembenaran terhadap kalimat atau perilaku anak. Sehingga anak akan terdiam pdahal dalam otak mereka sudah tersusun sebuah kalimat ide. Tetapi tidak akan keluar jika sudah dihambat dengan kalimat di atas, juga akan menyumbat komunikasi antara kita dengan anak, dan anak akan beranggapan bahwa apapun yang mereka katakan tidak akan dianggap jadi mereka lebih memilih untuk diam.
2. Merasa Paling Tahu
Ini juga salah satu sifat orang dewasa yang menyebabkan penghambatan terhadap perkembangan pembalajaran. Kita menjadi sok tahu terhadap segala hal karena jika kita tidak tahu maka rsa malu terhadap anak akan menyelimuti, oleh karena itu untuk menutupi hal tersebut kita menjadi sosok sok tahu yang jawban tersebut adalah mengada ada.
Jika anak terlalu kagum dengan figur kita dan bila nanti kita telah melakukan khilaf karena sifat sok tahu kita dan anak mengetahuinya maka akan sulit termaafkan oleh anak.
Bersikap wajar, biarlah anak menilai kita sesuai dengan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Jangan menjadi orang yang sempurna dimata anak dengan sok tahu yang nanti akibatnya akan menjadikan anak kita kecewa dengan sifat tersebut.
3. Membiarkan Anak Selalu Benar
Penanaman yang dimulai sejak kecil yaitu dengan selalu melemparkan kesalahan pada benda atau orang lain contohnya saja ketika anak jatuh kita mengatakan bahwa yang salah adalah kodok dan lain sebagainya, atau ketika anak kita nangis karena bertengkar dengan temannya kita mengatakan bahwa yang nakal adalah si A dll. Maka hal ini akan membentuk karakter tidak mau disalahkna dan selalu merasa benar. Yang berbahaya adalah ketika sifat ini akan terus terbawa sampai dewasa maka ini tidak akan bagus bagi perkembangan sosial anak, mereka akan menjagi orang yang egois, merasa menang sendiri, tidak mau disalahkan dll. Maka berhati hatilah dengan sifat yang satu ini meskipun kadang kita menganggap bahwa menyalahkan kodok atau benda yang lain akan bermanfaat pada waktu itu tetapi akibat kedepannya adalah tidak akan pernah menjadi baik.
4. Banyak Melarang Vs Menuruti Kemauan Siswa / Anak
Banyak melarang ini dan itu dengan banyak pertimbangan ini dan itu, mengekang, membatasi setiap pergerakan anak, hal tersebut tidak akan bagus untuk perkembangan emosi anak. Nanti pada titik klimaks dan anak sudah jenuh dengan semuanya maka dia akan melawan apa saja tindakan kita. Tentunya kita tidak menginginkan hal ini kan?
Kemudian jika sikap tersebut tidak baik kita mnegubahnya dengan menuruti segala permintaan anaka atau kemauan anak maka ini juga tidak akan baik bagi kehidupan sosial anak. Anak akan sulit bersosialisasi karena memiliki sifat  sangat egois dan tidak punya rasa toleransi.
Terus apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berilah kesempatan pada anak untuk melakukan banyak hal yang disukai, asal baik da positif. Membuka diri untuk berkomunikasi agar bisa melihat dan memahami sudut pandang orang lain. Bangunlah kepercayaan pada anak dengan mengurangi larangan yang berlebihan juga kebebasan yang berlebihan pula.
5. Bukan Pendengar Yang Baik
Jika ingin kata kata kita di dengar , belajarlah menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Ini adalah sebuah kalimat yang tentunya sering kita dengar sebagai pelajarn tentang harga menghargai. Jangan pernah berfikir bahwa kalimat ini berlaku pada orang dewasa saja tetapi kalimat ini juga di tujukaan untuk anak – anak.
Kadang nasehat kita hanya dianggap sebagai angin lalu oleh anak. Sikap anak seperti ini juga tidak jauh dengan sifat kita terhadap mereka. Maka mulailah menjadi pendengar yang baik bagi anak kita yakni perhatikanlah setiap cerita anak. Ajukan pertanyaan dengan antusias, sebagai wujud ketertarikan kita pada persoalan yang dihadapinya. Maka kita akan memahami permasalahan secara utuh dan benar.
6. Terburu – buru Mengambil Kesimpulan
Menyimpulkan seenaknya sendiri akan membuat anak merasa tertuduh dan salah melakukan hal tersebut.
Inilah sifat kita yang membuat anak merasa tidak berharga dan selalu berada pada situasi yang salah. Kita langsung saja menghukumi bahwa yang dilakukannya adalah salah dan tidak baik tanpa mendengar penjelasan anak atau menganbil kesimpulan yang salah tanpa mendengarkan penjelasan anak.
Maka mulailah dari sekarang menghilangkan sifat tersebut.
Dengarkanlah penjelasan mereka dan bicaralah saan anak siap mendengarkan.

Setelah kita mengetahui sifat sifat tersebut apakah kita rela melihat dan menjadikan kita penyebab penghambat perkembangan pendidikan kita? Jika tidak mulailah merubah semua sifat tersebut agar perkembangan anak menjadi maksimal.

Daftar pustaka : mengelola paud , Martuti.M

Rabu, 09 Mei 2012

Garisku

mungkin ini adalah garis yang harus aku tebali dimana untuk mempertegas artiseorang manusia.
garis yang tidak lurus indah dan rajin tentunya, garis ini belepotan miring kiri kanan, naik turun, karena masih dalam level belajar. jadi wajar garisnya menjadi seperti itu.
belajar bagaimana membuatnya lurus, tidaklah semudah makan coklatyang berasa sanngat manis. inilah mungkin garis itu, garisyang ku miliki khusus untuk ku saja.
yang kurasa ini berulang terustanpa mersasa bosan. yaa....mungkin tak pernah merasa bosan.
sepertinya hatikulah yang merasa bosan atas pengulangan garis ini. salalu saja pengulangan di titik yang sama. hanya saja berbeda di barisan mana.
kadang aku bertanya kenapa mesti harus berulang? apakah karena ini yang disebut kehidupan?
sepertinya jawabanyaadalah iyaw. karena ini yang dinamakankehidupan.
mungkin tepatnya ini hidupku. inilah garisku..

Sabtu, 28 April 2012

Episode Gila

tiba tiba cerita itu populer lagi dalam visualku, padahal cerita itu sungguh sangat lama mungkin sudah hampir 19 tahun aku melewati masa itu.
berputar, menari di iringi musik senyap hepar yang terdeteksi ada sesuatu kegalauan sejak saat itu. cerita dengan berjuta judul dan episode hampir membuatku gila, menagis meraung raung menjijikan.
iiihhh.........kelakuan yang tak seharusnya ada dalam usia ini, tapi.....bagaimana akku bisa melepaskan kungkungan cerita yang tak seharusnya muncul sekarang.
berlari??? => di tengah malam seperti ini, makin menguatkan statment kalau aku benar gila
terak??? => bisa bisa piring, sandal, air seember melayang ke badan mungilku ini.atau alarm menjengkelkan itu berbunyi hingga seisi penghuni kotak bangun.
menangislah akhir dari sebuah pilihan peluapaan, dari pada aku gila disini.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....................................kenapa sih harus menjadi populer di masa aku tidak mengingnkanmu.
tau gag? kamu akan semakin meyakinkan diriku bahwa aku bukan siapa siapa, tak bernilai, tak berharga, tak ada yang menginginkanku.
bersusah payahnya aku menghilangkan citra burukku ini hingga berkelana, tiba tiba dengan seenaknya kamu hadir dan populer!!! aku tidak terima ini...!!!!
atau apakah kamu mau melihatku hancur dan gila di sini...???
tidaaakk....................!!! pergilah ku mohon........ ;( hikz...hikz.....
pergi............................!!!!!!!
jangan ganggu aku........ ;(




Jumat, 13 April 2012

Kader dan Masa Depan Persyarikatan


Rencana strategis program nasional bidang kaderisasi—Tanfidz Keputusan Muktamar ke-45—menyatakan:   “Membangun kekuatan dan kualitas pelaku gerakan serta peran dan ideologi gerakan Muhammadiyah dengan mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh dan berorientasi ke masa depan.” Ada tiga kata kunci dalam rencana strategis tersebut: pelaku gerakan; ideologi gerakan Muhammadiyah; dan sistem kaderisasi. Khusus yang diistilahkan dengan  ”pelaku gerakan” cakupan subjeknya terdiri dari: pemimpin, kader, dan anggota/warga Persyarikatan.
Dalam ruang lingkup dan dinamika gerakan Muhammadiyah, maka secara organisatoris ketiga subjek tersebut saling membutuhkan dan pengaruh-mempengaruhi. Misalnya, seorang pemimpin pasti membutuhkan anggota/warga, baik sebagai  basis legitimasi kepemimpinan maupun  untuk kepentingan pelibatan mereka dalam berbagai program dan agenda kerja yang sudah dirancang. Terlebih lagi posisi kader, maka keberadaannya juga lebih strategis dan menentukan bagi bagi kemajuan organisasi. Nilai lebih ini karena kader menempati posisi signifikan di antara pemimpin dan anggota: sebagai tenaga pendukung tugas pemimpin serta menjadi penggerak dan pendinamis aktivitas partisipatif anggota/warga.
Secara leksikal kader (bahasa Perancis: cadre) merupakan bagian inti, pusat atau bagian terpilih yang terlatih. Dalam bahasa Latin adalah quadrum, yang berarti empat persegi panjang, bujur sangkar atau kerangka yang kokoh. Dengan demikian kader merupakan kelompok elite strategis dan terlatih yang samapta dengan kecakapan, kualifikasi dan nilai-nilai lebih yang harus dimilikinya.
Untuk menjadi kader seperti dalam pengertiannya tadi tentu tidak bisa terwujud secara instant dan begitu saja. Terbentuknya sosok kader seperti itu adalah melalui penempaan dalam latihan dan proses didik diri yang berkelanjutan di forum perkaderan, baik yang dikategorikan sebagai perkaderan utama maupun fungsional.
Forum perkaderan sebagai wahana didik yang intensif, bisa dijadikan ajang untuk menyeleksi kader dalam kualitas dan kualifikasinya, termasuk untuk menilai potensi  dan kapasitas kepemimpinannya. Dengan begitu, intensitas kaderisasi yang dilakukan oleh Persyarikatan dan Ortom AMM dalam berbagai jenis dan bentuknya yang berbobot menjadi investasi bagi masa depan Muhammadiyah.
Kader yang berkualitas dan proses kaderisasi yang mapan menjadi qonditio sine qua non bagi terlaksananya regenerasi dan alih estafeta kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Sekaligus dengan upaya itu pula regenerasi yang bertumpu pada kaderisasi dapat menjamin kesinambungan dan pengembangan organisasi di masa depan secara dinamis, sesuai dengan ideologi dan identitasnya yang dikontekstualisasikan untuk menjawab tuntutan dan perubahan zaman.
Identitas dan keberadaan pemimpin serta kader merupakan komponen organisasi yang  tidak boleh tidak mesti dirawat dan dikembangkan. Upaya ini menjadi tanggung jawab yang besar dan sekaligus berat terutama bagi pemimpin Persyarikatan, sementara  pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri merupakan bagian dari anasir yang terpenting dan fundamental dalam mengintensifkan gerakan  dan mengembangkan dinamika Muhammadiyah ke depan.
Dengan kata lain, aktiva dan pasiva gerakan Muhammadiyah untuk membuktikan identitas tersebut akan ikut ditentukan oleh kualitas kader dan kinerja kepemimpinan yang dijalankan oleh seluruh jajaran dan fungsionarisnya di semua lini.  Artinya, neraca gerakan Muhammadiyah dewasa ini–yang sudah memasuki  abad kedua–dan kelanjutannya ke depan yang tetap mengusung identitas tadi, tidak bisa dimungkiri lagi bakal ikut diwarnai dan ditentukan oleh kompetensi kader dan para elite yang saat ini diamanahi dalam struktur kepemimpinan Persyarikatan.
Dengan demikian, para kader dan orang-orang yang dipercaya menjadi pemimpin di Muhammadiyah itu, sesuai dengan levelnya masing-masing, memiliki amanah yang berat dan tanggung jawab yang besar untuk memajukan Persyarikatan serta mengembangkan sumberdaya kader dan anggotanya. Dalam konteks ini, selain memiliki integritas dan kredibilitas, kader dan pemimpin juga harus mempunyai kapabilitas, visi kepemimpinan yang jelas, dan kemauan untuk selalu meningkatkan kualitas dengan perkaderan atau memiliki tekad kuat untuk mau belajar dan berlatih guna memperbarui diri.
Kebutuhan akan sosok kader dan pemimpin yang amanah dan cakap serta model kepemimpinan yang responsif dan  partisipatoris, bukan saja karena kebutuhan intern Muhammadiyah yang urgen, tetapi juga mengingat tantangan dan problem eksternal Persyarikatan di masa depan yang semakin tidak ringan. Tantangan ini juga tidak lepas dari konstelasi dinamis dalam skup nasional dan global, baik dalam dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, maupun keagamaan.
Sebagai basis dan wadah kader Muhammadiyah, AMM seharusnya juga bisa menghasilkan kelompok-kelompok elite kader yang bisa diandalkan. Karenanya, keberadaan AMM di samping untuk senantiasa berupaya dalam menjaga eksistensinya, juga mempunyai fungsi dan peran strategis untuk menyuplai kader-kader terbaiknya bagi kepentingan Muhammadiyah. Bahkan keistimewaan (yang berarti juga menjadi beban moral) AMM, sebagai basis kader ternyata tecakup dalam “spektrum kekaderan”: kader Persyarikatan,  kader umat dan kader bangsa.Spektrum kekaderan IMM menunjukkan peran dan fungsinya yang  inklusif  bagi kepentingan hidup umat dan kejayaan bangsa melalui peranan mahasiswa muhammadiyah.
Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, maka kebutuhan standar kader untuk saat ini dan masa yang akan datang akan berbeda dengan masa yang lalu. Karena itu, untuk selalu menampikan sosok kader yang siap pakai sesuai dengan zamannya, perlu diadakan upaya “revitalisasi kader IMM”. Langkah ini merupakan bagian terpenting dalam membangun format pengembangan sumberdaya kader.Melalui penerapan “transformasi kader” dan “diversifikasi kader” diharapkan akan lebih mempercepat proses pengembangan dan peningkatan kualitas kader IMM yang sesuai dengan kompetensi dan kapabilitasnya yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan kedua sistem tersebut, sedikit banyak akan bisa mengatasi problem kaderisasi dan menjadi ajang perkaderan yang kondusif untuk mempercepat “mobilitas vertikal” dan “mobilitas horizontal” kader IMM, baik dalam lingkup kepentingan internal Muhammadiyah maupun untuk merespons dinamika kebangsaan yang tidak bisa lepas dari percaturan globalisasi yang menggurita.

Rabu, 04 April 2012

Tulisannya ^_^

Malam kian larut dengan redupnya sang cahaya rembulan,
celoteh gerombolan burung malam, sesekali menghidupkan keheningan malam
dikala komunitas-komunitas burung yang lain tertidur pulas...
ringkikan suara jengkrik ikut memberi suara sumbang ditengah rerumputan yang berdiri kaku,
tiupan anginpun, ikut bersua dalam membelai lembut batang rumput yang kaku,
akankah celoteh dan bisikanmu, akan membangunkan rembulan yang terlelap tidur???
ataukah suara sayupmu menambah lelap tidur sang rembulan???


Selamat Tidur Rembulan-Rembulan Sejati,,,
semoga esok cahayamu akan kembali menyinari kehidupan bumi yang mulai sesak dengan rutinitas nilai benda dan materi...

Minggu, 01 April 2012

Pola Asuh Rosululloh Sebagai Pendidikan Berkarakter

Oleh: Herwina Bahar

(Dosen FIP UMJ dan Dekan FIP UMJ)
Herwina Bahar

Abstrak: Pola asuh pendidikan Rasulullah SAW sangat tepat sekali dijadikan sebagai basis pendidikan karakter pada anak, salah satu faktor penting kejayaan pendidikan Islam yang dijalankan Rasulullah SAW adalah karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah SAW adalah al Qur’an yang hidup (the living Qur’an) yang langsung beramal, berbuat dengan ilmu yang didapat berdasarkan keimanan kepada Allah SWT. Rasul SAW sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter anak yang berlandaskan pada kasih sayang, sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Suasana penuh kasih sayang mau menerima anak sebagaimana adanya, menghargai potensi anak, memberi rangsang-rangsang yang kaya untuk segala aspek perkembangan anak, baik secara kognitif, afektif, sosioemosional, moral, agama, dan psikomotorik. Diantara Pendidikan karakter yang perlu dikembangkan diantaranya  Karakter ketuhanan (thabi`iyah ilahiyyah); Komprehensif (at-Takamul), menyentuh berbagai aspek;  rohani-jasmani, akidah-syari`ah, ilmu dan amal; Realistik (Waqi`iyyah), dan universal (`Alamiyyah) mencakup waktu, tempat, dan umat. Pendidikan Islam senantiasa relevan dengan zaman, tempat dan bangsa. Dengan demikian pola Asuh Rasulullah sudah seharusnya menjadi basis pendidikan karakter karena akhlak mulia adalah tujuan diutusnya para nabi dan rasul. Hal ini ditegaskan Nabi Saw, “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Dengan demikian pendidikan yang telah dicontohkan Nabi Saw, baik kandungan maupun metodenya dapat ditiru oleh umatnya, sehingga upaya dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dapat tercapai.