Rabu, 21 April 2021

h u j a n

"Ah pagi pagi sudah turun hujan". kataku pada ibu


"Berdo'a sayang, jangan menggerutu begitu, hujan juga rizki lho." begitu kata ibu sambil sibuk menyiapkan sarapan untuk ku dan ayah.

Aku suka hujan, kata ibu sejak kecil aku suka hujan-hujan, setiap hujan turun aku selalu ingin keluar dan minta hujan hujan pada ibu sambil merengek khas gaya anak usia 1 tahun, dan kalau hujan belum berhenti aku tidak akan mau masuk rumah.
Ibu selalu menyiapkan susu hangat atau coklat hangat atau teh hangat setelah aku hujan-hujan dan mandi, kata ibu biar badan ku hangat dan tidak sakit.
Ibuku keren memang, disaat ibu yang lain akan marah kalau anaknya main hujan tapi ibuku tidak, dia selalu memperbolehkan anak-anaknya main hujan. kata ibu, hujan juga berkah, rizki yang Allah turunkan, dibalik hujan turun begitu banyak berkah yang Allah berikan kepada manusia juga semua makhluk di bumi. Hanya saja ibu selalu berpesan kalau habis main hujan langsung mandi dan minum air hangat biar badan tidak kedinginan dan kena flue.

Aku berbeda dengan ibu, bagiku hujan adalah sebuah ketenangan, tubuhku yang terkena air hujan rasanya enak dan seperti ada yang luruh bersama air hujan, rasa damai itu yang selalu ku rasakan saat hujan.

"Ibu... aku berangkat kerja" pamit ku pada ibu sambil salim kepada ibu.

"Jangan lupa bawa payung, nak." pesan ibu dari kejauhan yang suaranya tenggelam oleh air hujan.

Meskipun aku membawa payung aku lebih suka kena air hujan, toh saat aku berangkat hujan sudah berganti gerimis, dan aku suka menikmatinya.
sengaja jalan pelan-pelan agar lebih lama terkena air hujan, dan gerimis tidak akan membasahi baju kerjaku.
Aroma daun dan pepohonan yang khas dipagi hari saat hujan begini adalah aroma favoritku. Aku menghirupnya dalam-dalam sambil menutup mata, aku tahan sebentar didalam agar aroma segar ini merasuk kedalam setiap aliran darah dan aku lepas pelan-pelan. Aku ulangi sampai aku puas menghirupnya.

Orang-orang meskipun gerimis begini padat berlalu-lalang, ada yang berangkat kerja, pulang dari pasar, pergi ke sawah, juga anak-anak yang mulai berangkat ke sekolah. Mungkinkah mereka sama denganku yang suka dengan hujan? aku bergumam dalam hati.
Betapa senangnya kalau semua orang suka hujan, tidak ada lagi yang menggerutu saat hujan turun, semua akan tersenyum saat melihat langit mulai kelabu dan bersiap menumpahkan seluruh beban air yang awan bawa bersama angin.
Aku melirik jam tangan, 5 menit lagi bus kota yang akan aku naiki berangkat. Aku percepat langkah kalau sampai telat bus yang ini aku juga akan telat masuk kerja, karena bus berikutnya 20 menit lagi baru lewat.

"Yess!" gumamku, tepat tidak lama setelah aku sampai halte, bus kesayangan juga sampai. Begitu pintu terbuka berbegas aku masuk agar dapat tempat duduk, kan lumayan kalau 40 menit berdiri.

"kay...!" ada yang memanggilku dari belakang.

aku menoleh refleks kaget, karena jarang ada yang memanggilku dengan nama itu.

"Eymm, elsa ya?"

"Hey... iya ini aku, elsa"

"Mashaa Allah, apa kabar?"

"Alhamdulillah, baik, sehat, kamu gimana?"

Kami akhirnya berbincang seru didalam bus. Dia, Elsa teman baikku saat kami masih sekolah SMA. Dia dan keluarganya pindah ke luar negeri setelah ada pengumuman kelulusan kami. Dihitung dari sekarang, kira kira kami sudah terpisah selama 5 tahun dan aku juga lost contacts dengan Elsa.

Elsa bercerita banyak hal, tentang pengalaman selama dia tinggal di luar negeri, tentang teman-temannya, tentang perbedaan budaya juga yang pasti tentang iklim disana yang jauh beda dengan Indonesia.

"El, ceritain tentang musim dingin disana dong!" aku dengan antusias minta Elsa bercerita tentang musim dingin disana.

"Wahh kamu bakalan suka deh Kay disana. hujannya tak pernah berhenti, rintik hujan terjadi sepanjang hari tanpa mengenal waktu, dan itu akan terjadi beberapa bulan. Yaa kalau di Indonesia seperti Bogor lah, tapi bedanya disana tak ada sinar matahari yang tembus sampai ke bumi. Baju yang kita pakaipun harus tahan air kalau tidak ingin basah sepanjang hari, plus harus pakai mantel lagi agar tidak kedinginan karena hujan.
Makanya dijuluki kota terbasah di sana.

"Mashaa Allah, kayaknya aku bakalan betah deh tinggal disana, haha." kami tertawa bersama sampai penumpang lain melirik kepada kami.

Lalu sekarang kamu kerja dimana?" tanyaku pada Elsa

"Di perusahaan om ku."

"Om kamu yang super ganteng dulu itu?"

"Iya, haha masih ingat aja kamu nih Kay,"

"Iya lah, sudah ganteng baik pula sama aku."

"Kamu sendiri kay? kerja dimana sekarang?"

"Haha coba tebak!"

"..." El mikir dengan wajah menelisik tatapan tajam ke arahku

"Aku sekarang kerja di BMKG"

"Wahh, Mantab!"

Lalu gantian aku yang bercerita tentang kehidupan ku selama kami terpisah, tentang kuliahku, tentang pertemananku, orang-orang yang dekat denganku, ayah ibuku, juga tentu saja tentang hujan yang masih aku sukai, dan itulah alasannya kenapa aku mati-matian berusaha bisa masuk dan bekerja di BMKG.

Dari hujan kemudian sejak SMA jadilah aku suka dengan geografi. Belajar tentang lempeng bumi, struktur bumi, sampai pada cuaca, jenis jenis awan dengan nama yang lucu-lucu, lalu bagaimana kita bisa membaca alam meramalkan cuaca, sampai kita bisa mengetahui akan ada badai apa, dimana, dan kapan, pun aku akan tau kapan hujan turun. Dan yang terpenting adalah aku bisa memberitahu masyarakat bahwa akan ada bencana gempa atau tsunami lewat peringatan dini. Semuanya bisa dipelajari dengan sains.

"Keren deh emang sahabatku yang satu ini." begitu kata El sambil menatapku kagum yang nyerocos aja ngomong tanpa ada titiknya.

"Eh, sudah sampai nih, kamu halte ini juga kan El?"

"Iya."

"Nanti makan siang bareng yuk!, kantor kita kan sebelahan,"

"yuhuu!"

Dan kami pun turun dari bus yang mempertemukan kami kembali, dan saat itu gerimis kembali turun seolah menyambut kami.